Tindakan Sosial di Ruang Virtual

Oleh: Ita Anistianah
(Dosen STAIN Pamekasan, Madura)

Masyarakat era digital ditandai dengan penggunanaan teknologi sebagai sarana dalam berinteraksi dan berperilaku. Teknologi memberikan kemudahan dalam mengakses informasi terkait berbagai hal yang ingin diketahui. Pada akhirnya, kehidupan masyarakat ditransformasikan melalui apa yang disebut Alvin Toffler “electronic cottages” sebagai tempat masyarakat hidup dan bekerja. Menyelesaikan pekerjaan di mana saja tanpa harus tinggal di tempat kerja, melakukan transaksi bank tanpa harus ke bank, memesan makanan atau pakaian tanpa harus ke toko makanan atau toko pakaian, kehidupan serba mudah tanpa kesulitan berarti, semua bisa dilakukan melalui online di ruang virtual digital.

Perubahan gaya hidup (life style) masyarakat digital tidak hanya mencakup pada kebutuhan dasar saja, seperti memesan makanan, pakaian, atau menghubungi rekan bisnis, namun juga terjadi pada pola-pola interaksi dan tindakan sosial yang tidak lagi terbatas pada ruang dan waktu, karena tidak selalu membutuhkan hubungan timbal balik secara nyata seperti pada masyarakat riil. Berjumpa teman baru, berhubungan secara intens, sekalipun sebelumnya tidak pernah bertemu, dengan mudah terjalin melalui ruang cyber (cyberspace) yang diciptakan oleh digitalisasi sebagai wahana komunikasi bagi masyarakatnya.

Istilah cyberspace diperkenalkan pertama kali oleh William Gibson, yang mengandaikan adanya stimulasi dari sebuah dunia yakni dunia maya dalam jaringan komputer terhadap dunia nyata. Melalui dunia maya diciptakan sebuah kehidupan yang seakan nyata, sebuah kehidupan yang imajiner sehingga menarik perhatian individu untuk bergabung di dalamnya. Dunia imajiner melalui cyberspace berbeda dengan ruang nyata. Terutama dari segi tindakan, individu dalam cyberspace bisa melakukan apa saja yang diinginkan tanpa ada kontrol dari adat maupun agama. Dengan kata lain, cyberspace adalah ruang individu dan komunitas cyber yang bebas melakukan berbagai tindakan, sekalipun dalam dunia nyata tindakan tersebut dianggap melanggar  norma.

Terkait dengan realitas cyberspace, Amir Piliang, mengutip argumen Alfred Schuts dan Thomas Luckman, mengatakan ada perbedaan antara dunia harian yang melibatkan kesadaran (counsiousness) dan dunia lain yang melibatkan ketidaksadaran (unconciusness) seperti mimpi atau alam bawah sadar. Piliang berasumsi bahwa kesadaran manusia mampu menangkap berbagai fenomena riil di sekitarnya. Kondisi manusia akan berbeda ketika berada dalam ketidaksadaran yang hanya merespon apa yang terjadi di dalam alam bawah sadarnya, melalui halusinasi, mimpi ataupun fantasi. Cyberspace merupakan dunia yang dimasuki manusia dengan kesadaran, namun memiliki obyek yang tidak nyata.

Masuk ke dunia cyberspace memang pilihan sadar individu, namun obyek yang ada dalam cyberspace bersifat artifisial, yaitu obyek-obyek yang tak nyata. Obyek yang tak nyata menyebabkan perilaku yang imajiner. Melalui imajinasi mengandaikan bisa menjadi siapapun yang dikehendaki, mampu melakukan apapun yang diinginkan, yang menyebabkan kehilangan identitas diri. Perlahan, jebakan cyberspace menciptakan kebingungan akan jati dirinya, tidak ada lagi perbedaan antara dirinya dengan orang lain.

Ciri Masyarakat Cyber

Cyberspace dengan kehidupan artifisialnya mengaburkan antara tindakan yang rasional dengan tindakan yang tidak rasional. Masyarakat cyberspace nampak memiliki kepribadian ganda yang tidak sama dengan kepribadian aslinya. Sulit untuk mengukur kebenaran tindakan individu dalam cyberspace.

Komisi KWI membagi ciri masyarakat cyber ke dalam lima ciri: 1) informasi yang melimpah, 2) relasi langsung namun tidak bersifat permanen, 3) corak pengetahuan yang didapat cepat namun tidak mendalam, 4) bahasa baru untuk berkomunikasi, dan 5) manusia yang cenderung semakin tidak manusiawi.

Masyarakat cyber berlimpah informasi. Setiap menit bahkan setiap detik, informasi selalu diperbaharui. Beragam informasi baik berupa tulisan, gambar, animasi, maupun video bertebaran di dunia cyber. Individu tinggal menelusuri infromasi sesuai kebutuhan. Beragam informasi memberikan stimulasi pada individu dalam masyarakat cyber untuk mengetahui banyak hal, namun akan berdampak negatif ketika informasi yang didapat tidak memiliki kredibilitas. Informasi tersebut juga berefek pada pengetahuan “abal-abal” yang tidak bisa dipertanggungjawabkan validitasnya.

Masayarakat cyber memiliki relasi langsung namun tidak permanen, karena hubungan yang terbangun melalui dunia cyber merupakan hubungan artifisial dan tidak nyata. Seringkali individu yang menjalin hubungan dengan individu lain tidak pernah bertemu secara fisik. Menjalin hubungan intensif secara artifisial melalui ruang virtual yang beretebaran di ruang cyber seperti twitter, email, facebook bukanlah hubungan akrab yang sebenarnya. Salah satu pihak bisa dengan tiba-tiba tidak merespon pihak lain tanpa ada rasa sungkan.

Sejatinya, masyarakat cyber berbeda dengan msyarakat riil. Masyarakat cyber tidak memiliki kontrol sosial dalam berbuat dan bertindak, hal ini menyebabkan kalimat yang tertulis sebagai bahasa komunikasi tidak dipertimbangkan, bahasa yang ditulis berefek buruk terhadap orang lain atau tidak. Bahasa yang digunakan seringkali memojokkan pihak-pihak tertentu, bahkan terkadang menyinggung aspek kemanusiaan anggota yang lain, seperti mecaci-maki fisik, menghina ras, agama maupun suku. Rasa kemanusiaan sebagai manusia yang memiliki empati terhadap manusia yang lain tidak lagi hadir di dunia maya. Kehilangan rasa empati berarti kehilangan sebagian sifat kemanusiaan yang membuat manusia tidak lagi manusiawi. Wajar sebenarnya ketika masyarakat cyber mulai kehilangan rasa empati yang merupakan wujud kemanusiaan, mengingat tindakan yang dilakukan oleh individu di ruang cyber tidak berlandaskan pada tujuan rasional yang mempertimbangkan asas kebersamaan dan solidaritas.

Tindakan Sosial Melalui Facebook

Pada awalnya facebook khusus dibuat untuk membangun jaringan di kalangan mahasiswa dan akademisi, namun seiring waktu banyak personal, lembaga, dan perusahaan memakai facebook sebagai sarana komunikasi. Pengguna facaebook selalu bertambah sekitar lima belas juta anggota baru per bulan. Jumlah yang menandakan animo masyarakat begitu tinggi untuk menggunakan akun ini sebagai media komunikasi di ruang virtual. Animo tersebut disebabkan oleh motivasi untuk menjalin hubungan dan menjaga pertemanan.  Seseorang bisa mencari teman baru dari berbagai seluruh penjuru dunia sekaligus menjaga komunikasi dengan teman lama.

Melalui akun facebook individu bisa berbagi foto kenangan lama, menginformasikan aktivitas sehari-hari, menginformasikan aktivitas bersama teman-teman dan keluarganya, mengemukakan ide-ide personal melalui status, sekalipun sulit dibedakan antara ide-ide personal atau ekspresi perasaan semata. Pertanyaanya, apakah tindakan yang dilakukan oleh sekian miliar individu dalam ruang virtual facebook merupakan tindakan yang rasional?

Pertama, tindakan sosial melalui status atau tulisan yang ditulis oleh inidvidu di beranda (wall) facebook seringkali lebih bersifat ekspresi perasaan dan emosi yang sering dirasakan oleh individu. Kalimat “makan apa ya yang enak?, “lapar nih” atau kalimat “butuh liburan”, “kenapa kau menyakitiku”, dan status lainnya yang tidak memiliki obyek atau memiliki obyek tapi obyek yang abstrak.  Tindakan yang tidak memiliki obyek tidak dikatakan sebagai tindakan rasional. Menurut Max Weber tindakan rasional adalah tindakan yang ditujukan kepada orang lain dengan harapan ada respon balik dari orang yang dituju.

Weber membagi tindakan ke dalam empat kategori.
 Tindakan rasional instrumental yaitu suatu tindakan rasional yang menurut weber merupakan tindakan rasional tertinggi. Individu menyeleksi tindakan yang diinginkannya dan mempertimbangkan alat dalam mencapai tujuan demi efisiensi dan efektifitas. Tindakan instrumental tidak hanya mempertimbangkan aspek tujuan semata, alat serta efektifitas dan efisiensi dalam tindakan juga menjadi pertimbangan utama dalam tindakan.

 Rasionalitas yang berorientasi nilai, alat dalam mencapai tujuan tidak terlalu dipertimbangkan terkait efektifitas dan efisiensinya karena penekanannya pada hasil tindakan tersebut.

 Tindakan tradisional, tindakan ini menurut weber adalah tindakan yang non rasional karena tanpa melalui refleksi yang sadar, hanya bertindak sebatas karena kebiasaan saja.

 Tindakan afektif adalah tindakan yang tidak rasional, tindakan afektif hanya sebatas tindakan dari luapan perasaan atau emosi saja. Terkait tulisan status dalam facebook masuk dalam kategori tindakan afektif yaitu tindakan dari ekspresi emosi dan perasaan semata.

Kedua, foto aktivitas sehari-hari yang diunggah di beranda (wall) facebook. Ada sebagian yang mengandung pesan-pesan tertentu, tapi mayoritas mengekspos kegiatan sehari-hari, baik kegiatan yang dilakukan sendiri, kegiatan bersama keluarga maupun kegiatan bersama teman. Tindakan ini tanpa mempertimbangkan norma dan nilai serta tidak mengharapkan dan memikirkan konsekuensi dari tindakan, melainkan hanya sebagai wujud untuk menunjukkan eksistensi semata. Sedangkan rasionalitas tindakan menurut Aristoteles adalah tindakan yang dilakukan berdasarkan niat melalui interpretasi terhadap norma dari situasi, berdasarkan sarana yang tersedia, menghasilkan konsekuensi-konsekuensi tertentu dari tindakan.

Ketiga, berita yang selalu diperbaharui. Anggota facebook bebas untuk berbagi berita kepada anggota lainnya, beragam berita bertebaran di beranda facebook tanpa validitas dan kredibilitas sehingga mengaburkan kebenaran dari berita tersebut. Ketika berita-berita tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan kredibilitas dan validitasnya maka berita tersebut tidak bisa dikatakan sebagai berita yang rasional.

Tindakan sosial dalam ruang virtual facebook merupakan tindakan yang tidak rasional, atau tindakan rasional namun dianggap sebagai tindakan yang rasional. Lebih tepatnya seperti apa yang dikatakan Pareto sebagai tindakan derivasi, tindakan yang tidak rasional akan tetapi dianggap sebagai tindakan rasional dengan aksioma pembenaran tertentu. Hal itu terlihat pada status dan foto yang diunggah dianggap tindakan yang wajar dilakukan dan logis, padahal tindakan tersebut tidak lebih dari memperlihatkan eksistensi dan ekspresi pribadi semata, tidak memiliki tujuan atas tindakan, apalagi mengharapkan respon balik dari yang lain, apa yang dilakukan individu di facebook tidak menimbulkan sakit hati atau perasaan tersinggung ketika tidak direspon, karena tindakan tersebut tidak memiliki obyek.

Efek cyberspace khususnya facebook memang tidak secara sadar dirasakan oleh anggotanya. Secara perlahan facebook mempengaruhi bentuk tindakan dan cara berpikir anggota yang bergabung di dalamnya. Ibarat candu, anggota facebook tidak bisa terlepas dari ruang virtual ini. Perasaan dan emosi yang dirasakan harus ditulis di beranda facebook, aktivitas sehari-hari sebisa mungkin diketahui oleh pengguna facebook yang lain. Perlahan, anggota facebook lebih peduli terhadap apa yang ada, yang tertulis dan diunggah di facebook daripada realitas sosial yang ada di sekitarnya.

Fungsi facebook sebagai media komunikasi yang sehat akan hilang ketika tidak bisa lagi dibedakan antara komunikasi yang memiliki tujuan dengan komunikasi yang tidak memiliki tujuan. Kini saatnya, pengguna facebook memilih informasi yang penting untuk dirinya, menyadari urgensi filter dalam memilih berita dan cara menggunakan ruang virtual ini agar bermanfaat.

Catatan: Paper ini pernah disampaikan pada International Conference Of Social Studies di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dengan judul Masyarakat di Era Digital: Analisis Tindakan Sosial Melalui Teknologi.

Tentang Penulis:

Ita Anistianah, lahir di Sumenep, 16 Maret 1986. Menempuh pendidikan MI, MTs, dan MA di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Pendidikan Sarjana (Strata 1) dan Pascasarjana (Strata 2) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis buku “Elit dan Konflik Komunal: Studi Kasus Konflik Sunni Syi’ah Sampang”. Saat ini menjadi Dosen di STAIN Pamekasan Madura.

 

 

Related Posts