Polisi Gerebek Dua Tempat Industri Senpira Rumahan Bikinan Petani Ogan Komering Ilir

Kapolres OKI, AKBP Amazona didampingi Waka Polres Kompol Ihsan dan Kasat Reskrim AKP Harris Munandar gelar barang bukti senpira hasil penangkapan

Tribratanews.com – Walaupun sudah berulang kali polisi mengungkap industri senjata api rakitan (Senpira) rumahan di Desa Sungai Ceper, Kecamatan Sungai Menang Kabupaten Ogan Komering ilir (OKI), Sumatera Selatan, hal itu tidak membuat warga setempat berhenti melakukan aktivitas memproduksi senpira.

Polres OKI kembali menggerebek dua rumah warga di Dusun 5 yang dijadikan tempat membuat kerajinan senpi.

Menurut keterangan dari kepolisian, penggerebakan tersebut dilakukan, pada Kamis (16-02-2017) dini hari.

Sebelumnya dilakukan pengintaian di dua rumah warga tersebut polisi mengamankan dua orang pelaku yang merakit senpira, yakni LO (23) dan SE (20).

Di rumah tadi, juga disita alat yang digunakan untuk merakit senpi, seperti bor besi, plat baja, batangan besi yang digunakan untuk membuat silinder revolver, beberapa senpi revolver yang sudah jadi, gergaji besi, kir, amunisi aktif, dan satu buah senpi laras panjang yang hampir selesai.

Pengungkapan industri senpi rumahan ini berkat informasi masyarakat, kemudian pihaknya menurunkan anggota untuk melakukan penyelidikan.

“Kemudian, dilakukan penyelidikan dilapangan selama satu minggu, setelah informasi itu akurat, langsung kita lakukan penangkapan di dua rumah itu,” kata Kapolres OKI, AKBP Amazona P SIK, SH, didampingi Waka Polres Kompol Ihsan SIK, SH, dan Kasat Reskrim AKP Harris Munandar.

Menurut Kapolres OKI, berdasarkan keterangan kedua tersangka yang diamankan beserta barang bukti tadi, menyebutkan mereka sudah sejak lama membuat senpi, tetapi sempat berhenti dan mulai kembali memproduksi sejak 4 bulan terakhir ini.

Setidaknya satu minggu untuk satu tempat ini, bisa membuat satu senpi jenis revolver, mereka membuat senpi jika ada pemesannya.

“Satu senpi bermodalkan Rp. 300 ribu sampai Rp. 400 ribu, dan dijual kepada pemesan Rp. 2 juta sampai 2,5 juta untuk satu pucuk senpira,” ucap Kapolres OKI yang menirukan pengakuan kedua tersangka.

Diakui Kompol Ihsan, senpira buatan tersangka sangat rapi dan mencapai 95 persen mirip dengan senpi asli. Setiap mereka membuat senpi disesuaikan dengan bentuk pelurunya.

“Untuk membuat silindernya, mereka menyesuaikan dengan ukuran amunisi yang tersedia, kita terus kembangkan dari mana asal peluru ini masuk, karena pasokan amunisi ini sudah terorganisir,” ungkapnya.

Tersangka LO mengaku, mulai aktif lagi membuat senpi sejak 4 bulan terakhir.

“Sebenarnya sudah lama saya bisa merakit senpi ini, tetapi sempat berhenti, belakangan ini ada warga yang memesan jadi saya mulai merakit lagi, kalau tidak ada yang memesan saya tidak merakit Pak, selama 4 bulan ini, sudah sekitar 20 senpi terjual, pemesannya ada warga OKI, juga ada warga Lampung,” kata tersangka LO yang mengaku selain kerajian membuat senpi dirinya sebagai petani.

Keahlianya merakit senpi, menurut tersangka didapat dari orang-orang terdahulu yang pernah merakit senpi.

“Saya bisa merakit karena pernah ikut orang-orang dahulu pernah membuat senpi pak, mereka sudah pernah ditangkap jadi tidak lagi merakit, untuk satu pucuk senpi revolver bisa selesai dalam satu minggu, modalnya Rp. 300 ribu dan dijual Rp. 2,5 juta,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan senpi laras panjang dijual jauh lebih mahal dengan harga Rp 4 juta modal Rp. 1 juta, pesanan dari Desa Pagar Dewa.

[Humas Polda Sumsel/Poles OKI]

Related Posts