P2TP2A Apresiasi Kinerja Polres Sukabumi yang Hentikan Kasus Tewasnya Bocah SD

 

Tribratanews.com- Langkah Kepolisian Resor Sukabumi untuk menghentikan penanganan kasus tewasnya SR yang diduga menjadi korban kekerasan teman sekelas diapresiasi oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sukabumi.

Ketua Harian Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sukabumi Elis Nurbaeti menyebut langkah yang diambil Polres Sukabumi menghentikan perkara tersebut sudah tepat.

“Dalam tim Diversi ini ada dari pihak penyidik, Bapas, Pekerja Sosial Profesional yakni dari P2TP2A, KPAI, Peksos Dinsos dan psikolog. Kita mencari keputusan yang terbaik untuk anak yang dihadapkan dengan proses hukum di luar peradilan pidana,” kata Elis, Selasa (15-08-2017).

Elis menjelaskan dalam peristiwa hukum yang menyangkut anak, prosesnya terbagi menjadi tiga yaitu anak sebagai terduga pelaku, korban dan saksi.

“Kami hadir dan memberikan pendampingan agar anak ini mendapat posisi sesuai haknya, diversi adalah langkah terbaik yang diambil dalam penanganan kasus-kasus seperti ini,” tutur Elis.

DI akan mendapatkan bimbingan dari LKSA dengan pendampingan dari Bapas. Bocah kelas 2 SD harus cuti dari sekolahnya.

Sebelumnya, Kepolisian Resor Sukabumi memutuskan untuk menghentikan penanganan kasus tewasnya SR yang diduga menjadi korban kekerasan teman sekelas, DI. Polisi memilih menjalankan amanat Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA).

Korban dan terduga pelaku merupakan anak di bawah umur. Kedua bocah sekolah dasar (SD) tersebut berusia 8 tahun.

“Dalam undang-undang itu pun ada dua pilihan, yakni menyerahkan terduga pelaku ini kepada keluarganya kemudian diberikan bimbingan atau memisahkannya dari kedua orang tuanya untuk menjalani pengasuhan dari LKSA,” tutur Kapolres Sukabumi AKBP M Syahduddi SIK, Selasa (15-08-2017).

AKBP M Syahduddi SIK menjelaskan, adanya diversi atau penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana memutuskan DI akan dipisahkan dari kedua orang tuanya. DI bakal mendapat pengasuhan dan pendidikan dari Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA).

Hasil rapat forum diversi yang beranggotakan P2TP2A, KPAI, Bapas Kelas I Bandung, psikolog anak, dan LK3 (Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga) menyimpulkan bahwa DI mendapat pengasuhan selama 6 bulan.

“Kami menghormati keputusan tersebut, dan proses penyidikan yang dilakukan kepolisian dihentikan,” tuturnya.

[Tribratanews.com]

Related Posts