Mengikis Habis Radikalisme ISIS dan Kelompok Radikal Lainnya di Indonesia

Oleh:Brigjen Pol Dr. Bambang Usadi MM

Menarik untuk dicermati kemiripan anatomi terbentuknya kelompok radikal Al-Qaeda dan ISIS.  Keduanya lahir di tengah gejolak konfik fisik di suatu negara di Timur Tengah dimana terdapat campur tangan negara-negara barat yang semula memanfaatkan sumber daya keduanya untuk memainkan peran dalam konflik kepentingan di Timur Tengah.  Al-Qaeda lahir pasca konflik fisik di Afganistan yang melibatkan kepentingan Amerika mencegah ekspansi wilayah dan ekspansi paham komunis Uni Soviet ke Afganistan, sedangkan ISIS kemunculannya pasca keterlibatan kepentingan Barat dalam konflik fisik untuk menggulingkan kekuasaan Basyar Al-As’ad yang dinilai otoriter dan mengancam kepentingan barat di Timur Tengah.

Sesungguhnya konflik Suriah merupakan bagian dari rangkaian fenomena gelombang Arab Spring (kebangkitan dunia Arab) di beberapa negara Islam di Timur Tengah dan Afrika, sebagaimana terjadi di Tunisia, Mesir, Libya, Bahrain, Yaman, Aljazair, Irak, Yordania, Maroko dan Oman.  Akan tetapi, terlalu kuatnya kekuasaan Basyar Al-As’ad berperan dominan dalam percaturan konflik sampai bergeser menjadi konflik berdarah tersebut, menyebabkan konflik Suriah dengan mudahnya disimplifikasi menjadi isu konflik Sunni-Syiah karena secara kebetulan kelompok perlawanan terbesar di Suriah terjadi di daerah Alepo yang notabene merupakan komunitas Sunni. Simplifikasi kompleksitas konflik Suriah menjadi konflik Sunni-Syiah ternyata menjadi magnet kuat kelompok-kelompok radikal sunni dari berbagai negara masuk ke Suriah dengan sukarela, untuk bergabung dan terlibat dalam upaya penggulingan kekuasaan Basyar Al-As’ad.

Menariknya, orang-orang yang dengan sukarela bergabung dengan ISIS, demikian juga dengan Al-Qaeda adalah kelompok yang memang dari awal sudah memiliki pemahaman radikal tentang agama atau sebelumnya dibentuk dan dicuci otaknya oleh gerakan radikal underground dengan membawa ideologi sempit memanfaatkan kondisi calon anggota, seperti latar belakang pendidikan, keadaan ekonomi dan isu politik yang berkembang, termasuk isu penderitaan penduduk muslim di daerah konflik.  Gelombang dukungan kelompok radikal tidak terkecuali datang dari Indonesia.  Menurut sumber intelejen terakhir menunjukkan ada sekitar 500 WNI radikal yang tertarik, berangkat dan bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak.  Persoalannya tidak berhenti sampai di sini, sebagaimana WNI radikal yang kembali dari medan perang Afganistan ternyata kemudian di tanah air menimbulkan kerawanan masalah ancaman terorisme yang nyata.  Maka perlu diantisipasi bagaimana mengelola potensi yang akan datang ketika WNI radikal yang bergabung dengan ISIS kembali ke tanah air, pilihan kebijakan mencabut kewarganegaraan WNI yang sudah terlanjur bergabung dengan ISIS menjadi salah satu pilihan kebijakan yang mungkin dapat diterapkan secara efektif untuk mengantisipasi terorisme menyebar di tanah air.

Pasca konflik Suriah inilah, ISIS terbentuk dan merajalela dengan mendeklarasikan diri sebagai bagian dari kepemimpinan dunia Islam dengan mengadopsi konsep Khilafah, sebuah wacana ketatanegaraan yang dikenalkan kelompok radikal dan fundamental untuk menandai kebangkitan semangat dominasi sebuah agama di dunia dan dominasi agama dalam tata pemerintahan dengan mendasarkan pada pemahaman klasik masa lalu yang sudah tidak relevan dan jauh dan sifat kebenaran kontekstual ajaran agama itu sendiri.  Akhirnya, ISIS masuk dan menimbulkan pergolakan fisik dan kekerasan di beberapa negara selain Suriah seperti Irak dan Libya, serta tersebar berbagai rumor dan isu bahwa melalui Libya, ISIS akan merencanakan masuk Eropa.

Sebagaimana gerakan radikal berbasis Islam lainnya, tiga isu penting yang dibawa gerakan radikal dan fundamental adalah masalah jihad, syariah dan khilafah.  Demikian juga dengan ISIS, yang semula kehadirannya dipicu oleh kepentingan jihad sunni radikal untuk meruntuhkan kekuasaan Basyar Al-As’ad yang dinilai sebagai representasi penguasa syiah, menegakkan Khilafah yang diyakini mampu melindungi kepentingan dan hajat hidup seluruh dunia Islam dan menegakkan syariah secara radikal dan fundamental sebagaimana pemahaman versi mereka.  Mudahnya sebagian masyarakat muslim ditarik mengikuti ideologi dan agenda pergerakan ISIS disebabkan banyak faktor, terutama menyangkut aspek ideologi, berbagai propaganda penganiayaan tentara Basyar Al-As’ad terhadap Sunni di Syiah yang dikonstruksi sedemikian rupa sehingga mampu membangun pandangan bahwa peristiwa di Suriah adalah sikap permusuhan yang nyata Syiah terhadap Sunni, serta sikap permusuhan dan ketidakpercayaan terhadap negara-negara barat.

Mudahnya membentuk keyakinan bahwa kekerasan di Suriah adalah agenda permusuhan Syiah hanya dengan mempertontonkan kebrutalan tentara Rezim Basyar Al-As’ad terhadap para penentangnya yang kebetulan sebagian besar adalah kelompok Sunni mencerminkan kurangnya tingkat intelektualitas para pengikut atau paling tidak pendukung gerakan ISIS dan keberhasilan propaganda fragmentasi Sunni-Syiah sebagai pihak yang harus berhadap-hadapan satu sama lain.  Padahal, peristiwa yang memiliki karakteristik serupa terjadi di Irak pada masa pemerintahan Saddam Husein, dimana Saddam Husein yang merupakan representasi penguasa Sunni menekan kelompok Syiah di negaranya.  Hal ini menegaskan bahwa yang terjadi sesungguhnya tidak lebih adalah konflik antara penguasa dengan pihak atau kelompok masyarakat yang mempersoalkan eksistensi penguasa, bukan permusuhan penguasa Syiah terhadap kelompok Sunni atau sebaliknya permusuhan penguasa Sunni terhadap kelompok Syiah.  Apabila kedua kelompok masyarakat (sunni atau syiah) tersebut tidak dalam posisi memusuhi penguasa yang berbeda keyakinan agamanya, maka tidak akan terjadi kekerasan tersebut, sebagaimana kekerasan penguasa sebelumnya tidak terjadi pada masa damai di negara bersangkutan.

Namun demikian, ISIS sudah terlanjur terbentuk dan konflik Suriah hanyalah pemicunya.  Kelompok radikal dan fundamental yang intoleran dan brutal seperti ini sudah tidak layak lagi hidup dan berkembang dalam peradaban modern yang menjunjung tinggi kemanusian dan hak asasi manusia.  Upaya pengikisian ideologi fundamental dan radikal seperti ini membutuhkan strategi yang tidak hanya mengkedepankan upaya represif, akan tetapi yang terpenting adalah bagaimana upaya preemptif dan preventif mampu dilakukan secara efektif.

Sesungguhnya ancaman ideologi seperti ISIS, Al-Qaeda dan kelompok radikal lainnya tidak akan pernah surut selama akar masalahnya tidak diselesaikan.  Selama ini, masalah ekonomi, politik, pendidikan, penilaian bahwa telah terjadi kedzaliman dunia barat terhadap sebagian masyarakat muslim di sebagian negara muslim, yang salah diindentifikasi sebagai akar masalah sesungguhnya tidak relevan, mengingat gerakan radikal sudah ada sejak jaman dulu ketika persoalan tersebut tidak muncul.  Akar permasalahan sesungguhnya tidak luput dari tiga isu penting yang disebutkan sebelumnya, yakni Jihad, Khilafah dan Syari’ah.  Sedangkan berbagai faktor seperti masalah ekonomi, politik, pendidikan, penilaian bahwa telah terjadi kedzaliman dunia barat terhadap sebagian masyarakat muslim di sebagian negara muslim hanya merupakan media yang berperan menciptakan iklim yang kondusif dan memupuk bagi tumbuh suburnya ideologi tersebut.

Mereka memandang bahwa untuk menegakkan marwah, kehormatan dan harga diri umat muslim seluruh dunia hanya dengan menciptakan sebuah sistem kekuasaan yang super power, sehingga dapat menjadi bargaining position terhadap negara super power lainnya.  Pemerintahan yang demikian dicita-citakan diatur berdasarkan syari’ah dan ditegakkan dengan jalan Jihad.  Pemahaman menyatunya agama dengan pemerintahan sesungguhnya juga terjadi hampir di semua agama, termasuk doktrin gereja, hindu, Budha, Shinto, termasuk Konfusius di masa lalu.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, radikalisme agama-agama tersebut menjadi semakin tergerus.  Misalnya radikalisme gereja tergerus dengan datangnya era renaisance (kelahiran  baru) disusul era aufklarung (pencerahan) dan puncaknya terjadi revolusi Perancis yang kemudian menyebar ke penjuru Eropa, ekspansi Jepang yang dapat dipahami terinspirasi  agama Shinto berakhir dengan kekalahan telak Jepang dari Sekutu ketika dijatuhkan bom atom di Hirosima dan Nagasaki, radikalisme konfusius menyatu dengan negara berakhir dengan sendirinya ketika kerajaan-kerajaan yang diatur menurut sistem konfiusisme runtuh, seperti dinasti-dinasti di China dan Korea.

Doktrin Hakko ichiu yang artinya dunia bagaikan satu keluarga merupakan sebuah semboyan yang berisi sebuah ajaran shinto (agama asli jepang) yang mengatakan bahwa jepang harus menyusun dunia ini sebagai satu keluarga besar dan jepang bertindak sebagai kepala keluarga.  Hakko Ichiu (八紘一宇), delapan Penjuru Dunia Di Bawah Satu Atap) adalah slogan persaudaraan universal yang digunakan Jepang untuk menciptakan Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya dalam Perang Dunia II. Slogan ini berasal dari kalimat “掩八紘而爲宇” dalam Nihon Shoki jilid 3 bab Kaisar Jimmu yang berarti “seluruh negeri bagaikan sebuah rumah”, dimana doktin ajaran “harakirinya” sebagai syuhada’ ala Jepang yang terhormat berjalan dalam kontek sejarah Jepang yang panjang dalam nasionalisme. Segera setelah Kapitulasi Jepang di bawah pendudukan Komandan Tertinggi Sekutu, memorandum dikeluarkan tentang “penghapusan sponsor pemerintah, dukungan, pelestarian, pengawasan, dan penyebaran Shinto agama negara”, slogan-slogan yang berkaitan dengan nasionalisme radikal, militerisme, dan Shinto agama negara dilarang untuk dipakai lagi.

Pada tahun 136 SM dalam masa pemerintahan dinasti Han (220 – 202 SM), kaisar Wu-ti mengumumkan ajaran Confucius sebagai ideologi negara China.  Penyalinan ulang Lima Kitab [Wu Cing] merupakan suatu perwujudan nyata dimulainya era tradisi Confucianisme.  Keahlian dalam menyajikan dan menjelaskan naskah Wu Cing menjadi suatu persyaratan mutlak bagi para sarjana yang hendak menjabat di pemerintahan, dimana salah satunya memuat Kitab tentang Kejadian/Perubahan (I Cing).  Sejarah di Tiongkok mencatat bahwa I Cing banyak dipakai oleh para peramal pada zaman dinasti untuk menasehati para penguasa selama masa perang antar negara.   Mengutip dari Amstrong dalam Field Blood, sudah menjadi tradisi kekuasaan dinasti China yang salah satunya didukung dengan mengembangkan methologi agama untuk mensakralkan sekedar ekspansi militer, penindasan dan kekuasaan, terutama sejak “Periode Negara Perang  (476 – 221 SM),  yang terjadi pada masa awal-awal perkembangan Confucius yang hidup antara tahun 551 SM – 479 SM.

Cita-cita ekspansi terbesar pun sama terjadi di India beberapa abad sebelum masehi pada saat kerajaan berinteraksi secara intens dengan agama dalam pemerintahan.  Asoka yang Agung  adalah penguasa Kekaisaran Gupta dari 273 SM sampai 232 SM, seorang penganut Hindu yang kemudian berpindah ke Buddha.  Asoka adalah pemimpin pertama Bharata (India) Kuno, setelah para pemimpin Mahabharata yang termasyhur, menyatukan wilayah yang sangat luas ini di bawah kekaisarannya, bahkan melampaui batas-batas wilayah kedaulatan negara India.  Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.  Bahkan pasa masa-masa kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa pun, mithologi agama melekat dengan kekuasaan tidak dapat dipisahkan yang didasarkan pada doktrin “Dewaraja”, sebuah konsep Hindu-Buddha yang memuja dan menganggap raja memiliki sifat kedewaan, misalnya raja Erlangga atau Airlangga dinisbatkan sebagai titisan dewa Wisnu atau dengan personifikasi dewa Wsnu dengan diarcakan sebagai dewa Wisnu, yang sampai saat ini menjadi ikon Universitas Airlangga di Jawa Timur.

Di Eropa pun tidak kalah, ketika Gereja menjadi bagian tak terpisahkan dengan pemerintahan negara secara melekat dan mendominasi.   Segala hambatan dirasakan, perkembangan ilmu pengetahuan terkungkung dengan doktrin agama yang dimaknai secara tekstual, salah satu bukti nyatanya adalah penolakan teori Galileo tentang fakta ilmiah bahwa bumi bulat dan bumi sebagai pusat tata surya.  Pandangan Galileo   dianggap merusak iman dan diajukan ke pengadilan gereja Italia tanggal 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang bumi adalah bulat dan matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah datar dan pusat alam semesta. Pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan hukuman Galileo adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan.

Sesungguhnya radikalisme penyatuan agama dengan negara di dunia Islam telah berakhir semenjak runtuhnya Turki Ottoman (Turki Usmaniyah) setelah direformasi menjadi Turki Modern ketika merasakan menghadapi berbagai hambatan perkembangan modernisasi yang sangat tertinggal kala itu dengan belahan dunia lainnya dan sebagai faktor utama kemunduran Turki Usmaniyah, akan tetapi penyebaran paham agama informal yang terjadi hampir di seluruh dunia Islam sebagiannya menganut pemahaman ulama radikal, sementara di bagian lain juga tumbuh penyebaran Islam moderat dengan berbagai tokoh ulama moderatnya.

Perkembangan pemahaman radikal yang tidak terkontrol karena tidak terlembaga dalam pendidikan formal yang sulit dipantau negara inilah akar dari semua permasalahan radikalisme, yang tidak tuntas digerus dengan reformasi Turki Usmaniyah menjadi Turki Modern.  Kelompok radikal ini bahkan menjustifikasi bahwa pemimpin reformasi Turki Modern, Mustafa Kemal Pasha sebagai penghianat Islam dan mencita-citakan tegaknya kembali Khilafah sebagaimana tegaknya Turki Ottoman (Turki Usmaniyah).  Mereka berpandangan bahwa runtuhnya Turki Usmaniyah disebabkan konspirasi dunia barat dengan Israel dan pihak-pihak yang merasa terancam dengan eksisteni Turki Usmaniyah.  Padahal faktanya keruntuhan dan kemunduran Turki Usmaniyah tidak terlepas dari kekalahan perang dunia bersama sekutunya, yang sebagian juga merupakan kekuasaan monarki Kristen yang mengalami keruntuhan akibat menderita kekalahan perang dan berdasarkan perjanjian pasca perang, pihak yang kalah perang membiayai seluruh kerugian terjadi selama perang berlangsung.

Melihat akar masalah tersebut, strategi deradikalisasi di Indonesia selama ini dipandang hanya menyelesaikan masalah puncaknya saja, tetapi tidak melihat akar masalahnya.  Akar masalah radikalisme adalah ideologi jihad, syari’ah dan khilafah.  Ketiga ideologi tersebut hanya dapat dikikis habis dengan mencuci otak pemahaman mereka yang disebabkan metodologi penafsiran baku dan kaku yang selama ini biasa digunakan dengan hanya mengandalkan rasionalitas ayat menjelaskan ayat, hadist menjelaskan ayat, ijma ulama dan qiyas.  Metodologi tersebut sesungguhnya hal biasa dan tidak bermasalah, namun persoalannya adalah semata-mata menggunakan metodologi tersebut akan membuat doktrin pemikiran keagamaan terjebak pada romantisme masa lalu, termasuk romantisme tentang tegaknya khilafah dengan syari’ah sebagai tata aturannya dan jihad sebagai penegaknya.  Sehingga langkah strategi yang perlu segera dilakukan, termasuk di Indonesia adalah:

Pertama, mendobrak metodologi tafsir dengan mendasarkan semua metodologi tersebut (ayat menjelaskan ayat, hadist menjelaskan ayat, ijma ulama dan qiyas) berbasis pada pembagian tektual dan kontekstual. Namun demikian, persoalannya adalah basis pemahaman agama berdasarkan dikotomi tekstual dan kontekstual dianggap sebagai sebuah metode yang tidak sah dan tidak diakui dalam sejarah keilmuan Islam.  Hal sama sesungguhnya juga terjadi pada dogma gereja yang awalnya susah dipisahkan dari kehidupan kenegaraan dan politik, akan tetapi ketika berhadapan dengan rasionalisme dan empirisme sekaligus, otoritas gereja tidak mampu menolak bahwa memang harus terjadi redefinisi metode penafsiran terhadap ayat-ayat Kitab Suci.

Kedua, melibatkan ilmu terapan (sains) modern untuk mengkonfrontasi dan mengkoreksi kegagalan metode konvensional dalam penafsiran agama yang tidak didasari dan menolak mendasarkan pada pembagian tekstual dan kontekstual sebagai basis pembuktian empiris terhadap kebenaran tafsir.  Runtuhnya metode tafsir konvensional gereja terhadap ayat suci pada sekitar abad ke-16 ketika berhadapan dengan rasionalisme yang didukung empirisme sains, sehingga otoritas Katedral bahkan menyatakan terbuka mengoreksi metode penafsiran terhadap ayat suci yang selama ini ternyata melahirkan pemahaman yang tidak tepat.

Ketiga, membangun argumentasi dengan menggunakan logika induktif untuk menetralisir semua pemahamaan doktrin Kitab Suci Al-Quran yang ditarik dari koreksi pemahamanan terhadap puluhan ayat yang dapat dikonfrontasi dengan bukti empiris sains yang sudah tidak terbantahkan dan dapat diindera dengan jelas.  Di Eropa, pasca berhadapan dengan rasionalisme didukung empirisme sains, pengaruh dogma gereja yang terlibat dalam kenegaraan dan politik semakin berkurang dan terkikis, sampai terbentuknya pemerintahan sipil yang kuat.

Keempat, merekonstruksi motode penafsiran konvensional ketika seluruh koreksi terhadap pemahaman lama terhadap doktrin agama dapat diluruskan melalui pembuktian empiris terhadap puluhan ayat tentang sains yang dapat diindera.   Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat metodologi baku dalam membangun pemahaman inklusif terhadap dogma-dogma agama dan Kitab Suci.

Kelima, sertifikasi organisasi massa (ormas) untuk mengantisipasi perkembangan ormas yang bertentangan dengan ideologi negara.

Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri lagi, kehadiran ide negara pancasila merupakan antitesis dari fenomena doktin negara agama atau sebaliknya negara tanpa agama merupakan kebutuhan mutlak yang tidak dapat ditawar, dengan memposisikan agama sebagai sumber inspirasi nilai moral dan etika, merupakan bagian tak terpisahkan dan tak terbantahkan dari kebutuhan tata kelola negara modern yang sejalan dengan perkembangan kebutuhan sistem ketatanegaraan global yang modern, dimana negara hadir dan berada di tengah-tengah semua agama dan berkomitmen menjaga jarak yang sama terhadap semua agama.

 

  • penulis adalah Karobankum Divkum Polri

Related Posts