Memaknai Pengabdian ke-26 Bagi Nawa Tunggal

(Sebuah Analisis Filsafat tentang Arti Persahabatan)

Oleh: Kombes Pol Dr (C) Eko Rudi Sudarto SIK, MSi

 

Arti Persahabatan

 

Hari ini, Kamis tanggal 27 bulan Juli 2017, alumni AKABRI lulusan tahun 1991, genap berusia 26 tahun. Artinya adalah bahwa seusia itulah pengabdian No Akademi “88” tersebut. “Bravo “ atas kesetiaan dalam pengabdian kawan-kawan yang terus berpacu dengan waktu hingga garis akhir pengabdian. Di usia yang tidak muda lagi, tuntutan akan karya bhakti kita yang terbaik untuk Negeri senantiasa dinanti. Semoga sehat dan sukses selalu sampai tujuan, “Nawa Tunggal”.

Saya ingin mengulas tulisan lama, yang mencermati secara jernih dan seksama apa arti persahabatan selama kurun waktu pengabdian tersebut. Uraian di dalamnya tidak secara spesifik mengungkap proses perjalanan panjang detail persahabatan para punggawa Nawa Tunggal tersebut, namun merupakan analisa filsafat tentang arti memaknai sebuah persahabatan. So, karena makna sebuah persahabatan itulah maka tulisan ini muncul untuk kita cermati bersama.

Didasari karya Dr Setyo Wibowo  yang berjudul “Persahabatan Selalu Segitiga: Platon dalam Lysis”. Penulis mengawalinya dengan pernyataan, bahwa “Tidak ada yang kekal dalam persahabatan (politik), kecuali kepentingan”. Penyataan sinis tersebut sebenarnya menggambarkan relasi koalisi beberapa partai politik di saat Indonesia yang saling berkoalisi karena memiliki kepentingan yang sama, demi memperoleh kemenangan pada setiap Pemilu yang berlangsung, sepanjang masa. Saya kira pernyataan Dr Wibowo tersebut juga berlaku di semua belahan dunia ini. Kajian dan ulasan yang disampaikan berkaitan dengan fenomena tersebut dianalogikan sebagai bentuk persahabatan yang didasarkan kepada “kepentingan” atau kita coba sebut dengan “kebaikan”.

Persahabatan sejati menjadi impian maupun dambaan setiap orang sepanjang masa. Namun seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern ini, keberadaan term yang bernama persahabatan pun menjadi samar dan dipertanyakan. Hal ini karena berbagai pertimbangan untung dan rugi dalam membangun sebuah persahabatan. Sehingga memunculkan berbagai macam pertanyaan, seperti apa arti persahabatan sejati itu? Atau, adakah persahabatan sejati itu sendiri? Maupun, siapa dan apa tujuan dari persahabatan itu?

 

Ajaran Sokrates (Platon) tentang Persahabatan dalam Lysis

 

Saya mencoba mengurai tulisan filsafat tersebut dengan mengungkapkan kisah Plato (murid setia Sokrates) dalam dialog berjudul Lysis yang mengatakan tidak tahu arti sesungguhnya persahabatan dan membiarkannya untuk terus menjadi misteri dialog tanpa akhir. Plato maupun Sokrates tidak begitu saja mempercayai sesuatu sebagai kebenaran yang mutlak. Dalam Lysis 218a-218b (yang berbentuk dialog) dituliskan, bahwa mahluk yang tidak membutuhkan pengetahuan kebijaksanaan (Sophia) adalah para dewa (sudah bijaksana), binatang (sentien), dan orang bodoh (tidak memiliki kesadaran akan kegunaan sophia).

Tentang persahabatan ini, Sokrates maupun Platon mengemukakan dua (2) buah tesis dalam sebuah dialektika. Tesis pertama ialah “seseorang yang sama niscaya selalu membutuhkan sahabat yang sama” (to homoion to homoio anagke aei philon einai). Diartikan bahwa orang yang baik (philon agathon) akan bersahabat dengan orang baik, sedangkan orang jahat bersekongkol dengan orang yang sama. Tesis tersebut disanggah bahwa “seseorang yang sama belum tentu bersahabat dengan yang sama”. Misalnya: “orang yang sama-sama baik”. Orang baik selalu dapat mencukupi dirinya sendiri (bersifat autarkes atau self-sufficient), sehingga tidak akan membutuhkan apapun dari sesama yang baik. Orang yang tidak membutuhkan apapun dari orang lain, tidak mau mengapresiasi orang lain. Selanjutnya, tidak mungkin ada hubungan saling mencintai dalam ketidakmampuan untuk mengapresiasi. Demikian halnya “orang yang sama-sama jahat, sangat tidak mungkin untuk bersahabat”. Mereka akan saling menjahati, tentu salah satu akan jadi korban dan mereka pun tidak akan mau bersahabat dengan orang yang membuatnya menderita.

Tesis kedua ialah “sebuah persahabatan muncul dalam hal-hal yang berlawanan”. Justru pada hal-hal yang paling berlawanan, ditemukan persahabatan. Segala hal menginginkan (epithumein) bukan pada hal yang sama dengannya, tetapi apa yang berlawanan dengannya. Akan tetapi, tesis ini juga ditentang dengan pendapat bahwa sesuatu yang membenci tidak dapat bersahabat dengan sesuatu yang penuh kebencian.

Dari kedua tesis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa:

  1. Sesama orang baik atau sesama penjahat, kecil kemungkinan merasakan persahabatan, karena satu sama lain tidak mau saling mengapresiasi dan persahabatan pada jenis kedua akan saling menjahati.
  2. Orang yang tidak 100% baik sekaligus tidak 100% jahat, bisa merasakan persahabatan (kurang akan sesuatu), hal ini didasari pada keragaman adalah kekayaan, perbedaan adalah ikatan maka justru karena perbedaan maka persahabatan menjadi indah. Jadi orang bersahabat karena di dalamnya ada unsur yang tidak baik dan unsur yang tidak buruk.

Pada tingkat persahabatan tertinggi, Sokrates atau Plato menyatakan bahwa ada pihak ketiga yang mengikat persahabatan, yaitu kebaikan atau kepentingan. Dengan kata lain, jika ada kebaikan, maka akan terjalin persahabatan antar dua pihak yang terlibat. Jadi, persahabatan itu bersifat segitiga (triangular).

Dalam Lysis, Plato memberikan contoh dalam model orang yang bersahabat (philia), dimana cinta seorang sahabat pada sahabatnya yang lain hanya mungkin terwujud jika keduanya melihat kebaikan. Cinta philia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar seks, rasa, hasrat, dan kepuasan. Sesuatu itu adalah hubungan timbal balik (resiprokal). Di sinilah problemnya. Jika dalam Eros (filsuf Yunani) mengemukakan bahwa kita dapat mencinta, dicinta, dan saling mencinta, maka dalam philia yang diperlukan adalah relasi dua arah saling mencintai. Cinta ibu pada anak, cinta ayah pada anak, cinta anak pada orangtua, cinta antara dua sahabat, semuanya membutuhkan kondisi saling memberi dan menerima (resiprokalitas).

Plato menjelaskan bahwa orang bersahabat karena adanya dorongan hasrat (kekurangan) akan sesuatu. Selanjutnya Eros menguraikan ada tiga jenis hasrat (rasa kurang) pada manusia, pertama adalah persahabatan terjalin karena dua pihak sama-sama suka makan, minum, dan seks (epithunia). Plato menyebutnya sebagai hasrat akan uang atau kebutuhan perut dan bawah perut. Hasrat kedua adalah persahabatan yang mampu melampaui dan mengatasi urusan perut ke bawah (thumos). Kebaikan ini terletak pada tingkat bagian jiwa di dada, yang bercokol rasa bangga diri, harga diri maupun ambisi. Platon menyebut kedua jenis persahabatan tersebut (epithunia dan thumos) sebagai irrasional, berbahaya dan masih jauh dari kebahagiaan, maka hasrat persahabatan ketiga adalah bersahabat karena sebuah nilai (keadilan, kesetiaan, kebaikan hati). Platon menyebut hasrat persahabatan pada tingkat ini dilandasi pengetahuan (logistikon) yang mampu mengendalikan rasa senang dan nikmat.

Sokrates maupun Plato mengatakan, “Jadi, kalau bisa menjadi bijaksana (sophos), anakku, semua akan menjadi sahabatmu, dan semua akan seketurunan (oikeion) denganmu, karena kamu berguna dan baik; jika tidak, tak seorangpun menjadi sahabatmu entah itu ayahmu, ibumu, atau orang-orang seketurunan denganmu.” Dari kutipan ini dapat didefinisikan bahwa sahabat dan persahabatan (philia) hanya muncul bila ada pengetahuan. Artinya bahwa pengetahuan menjadi sumber atas apapun yang “berguna” dan “baik”. Orang yang bersahabat dengannya akan menjadi “seketurunan” (oikeion) dengannya, yaitu merasakan dan mengikuti pada dorongan pada kebaikan yang sama.

 

Persahabatan “Kepentingan”

 

Plato melalui pemikiran filosofinya mencoba mengajarkan bahwa persahabatan itu bukanlah sebatas pada relasi antar dua orang saja, namun membutuhkan pihak ketiga yaitu kebaikan. Dalam lingkup yang lebih besar, persahabatan terwujud pada lingkup kelompok/golongan (partai) hingga pada tataran negara.  Karena Negara menurut Plato adalah manusia dalam ukuran besar yang dibagi dalam tiga golongan; golongan bawah, golongan tengah, dan golongan atas. Jadi seorang tidak dapat mengharapkan negara menjadi baik apabila ada beberapa orang kelakuannya tidak bertambah baik.

Secara tidak langsung Plato mengajak setiap orang agar:

  1. Mengarahkan segala aktivitas persahabatan tidak pada nafsu duniawi (penampilan maupun latar belakang keluarga) semata atau epithumia.
  2. Memiliki rasa “saling memiliki”, sehingga perbedaan-perbedaan yang sering kali terjadi, tidak menyebabkan perpecahan.
  3. Menjadikan pengetahuan (logistikon) sebagai sumber dari segala relasi persahabatan.

Mencermati faktor utama yang mempengaruhi koalisi atau persahabatan antar partai politik di Indonesia dewasa ini, saya sepaham dengan penulis bahwa kita memang sangat memerlukan metode dialog untuk merangsang sikap kritis terhadap setiap persoalan. Solusi merupakan hal yang tidak perlu dijadikan tujuan akhir, yang terpenting ialah tetap terbuka pada kritik dan bertanggungjawab dengan argumentasi yang diungkapkan.  Pandangan umum membuktikan bahwa persabahatan antar partai politik, khususnya di Indonesia saat ini pada umumnya tidak lain adalah adanya kepentingan akan tujuan yang sama, yaitu pembagian kekuasaan (shared of power). Pada poin ini, tentu menjadi pertanyaan kita bersama, apakah sebuah kepentingan atau kebaikan dari para partai politik tersebut dilandasi oleh pengetahuan (rasional) yang dapat dipertanggungjawabkan? Jawaban dari pertanyaan tersebut hendaknya menjadi perhatian para aktor partai politik untuk tujuan kebaikan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di republik tercinta ini.

Pemahaman Plato tentang pembentukan dunia ini berdasarkan pada pendapat Empedokles , bahwa alam ini tersusun dari empat unsur yaitu api, udara, air, dan tanah, tetapi tentang proses pembangunan seterusnya, tentu memerlukan diskusi lanjut. Plato mengatakan bahwa Tuhan sebagai pembangun alam menyusun ke-empat unsur tersebut menjadi satu kesatuan. Kedalam bentuk yang satu itu Tuhan memasukkan jiwa dunia yang akan menguasainya, yaitu umat manusia. Meski ajaran Plato tentang persahabatan ini sudah kuno (± 24 abad yang lalu), tetapi masih sangat relevan bila di zaman ini nilai-nilai dari persahabatan itu terus diterapkan secara benar.

Menurut pandangan saya, bahwa dalam diri setiap insan, utamanya seorang aparatur negara, sebenarnya tercermin sebuah ungkapan sebagaiman disampaikan Socrates yang termashur, yaitu: “Lego gar tagathon kalon einai” bahwa “dengan demikian aku katakan bahwa kebaikan itu elok”. Artinya bahwa melalui dinamika pekerjaan Kepolisian yang dilandasi oleh kebaikan, maka tidak mustahil masyarakat sosial akan memberikan respon terhadap terciptanya kebaikan secara luas. Dalam artian bahwa, seorang aparatur negara akan menularkan kebaikan dalam lingkungan sosialnya dan hal itu merupakan sebuah keutamaan sebagaimana termaktub dalam Pancasila dan UUD 1945. Secara spesifik dapat dijelaskan bahwa kehidupan dapat menjadi lebih indah jika dilandasi oleh adanya suatu kecintaan dan ketulusan akan arti persahabatan.

 

Daftar Pustaka

  1. Wibowo, Setyo. Penj, Mari Berbincang Bersama Plato: Persahabatan (Lysis). Jakarta: Ipublishing, 2009.
  2. Wibowo, Setyo. “Persahabatan Selalu Segitiga.” Basis (Nomor 01-02, Tahun Ke-63, 2014): 14-23.
  3. Wibowo Setyo, penj dan peny., Mari Berbincang Bersama Plato: Persahabatan (Lysis), Jakarta: Ipublishing, 2009, 56-57.

Komentar

Related Posts