Inilah Pesan Kebangsaan Kabaharkam Polri kepada Mahasiswa

Tribratanews.com – Kabaharkam Polri, Komjen Pol Drs Putut Eko Bayuseno SH, mewakili Kapolri menghadiri Rapat Koordinasi Nasional XIII Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) di Denpasar, Bali, Kamis (31-08-2017).

Dalam kesempatan yang juga dihadiri Menko Polhukam Jenderal TNI (Purn) Dr H Wiranto SH, sebagi keynote speaker ini, Komjen Pol Putut Eko Bayuseno memberikan kuliah umum bertema “Teguhkan Ideologi Bangsa untuk Indonesia yang Berdaulat”.

Kepada para mahasiswa, Kabaharkam mengingatkan bahwa Indonesia memiliki ragam suku, bahasa, adat, maupun agama. Yang bersatu lewat ikatan semangat Sumpah Pemuda 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan 1945. Dan terbukti 72 tahun sudah Negara Kesatuan Republik Indonesia bertahan sejak pertama kali diproklamirkan.

Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa potensi perpecahan akan terus mengintai. Dampak globalisasi memunculkan persaingan ketat, kejahatan berdimensi baru, disertai memudarnya nilai luhur kebangsaan. Belum lagi di beberapa tempat masih terjadi intoleransi antarumat beragama maupun interumat beragama, masih ada kelompok yang memaksakan untuk mengganti ideologi atau dasar negara dengan ideologi tertentu.

Ancaman perpecahan yang menjadi tantangan bagi keberagaman itu semakin kuat potensinya berkat media sosial (medsos). Yang dimanfaatkan beberapa pihak untuk melakukan kejahatan siber seperti pornografi dan judi online, penyebaran paham radikal melalui propaganda kelompok teroris, hingga penyebaran permusuhan dalam bentuk informasi hoax dan meme yang dapat memicu konflik.

“Media sosial memiliki kerawanan yang lebih besar dibandingkan dengan media konservatif, karena siapa saja bisa menjadi pemilik media, jurnalis, penulis, yang dapat men-share apa saja yang diinginkan. Masyarakat harus waspada dan berhati-hati dalam men-download, men-share, berita yang tidak bisa dipastikan tingkat kebenarannya,” pesan Kabarharkam.

Komjen Pol Putut Eko Bayuseno berpendapat, ancaman perpecahan itu dapat dicegah dengan memperkecil perbedaan kepentingan dan memperbesar kepentingan bersama.

Selain itu, menurutnya, perpecahan juga dapat dicegah dengan meneguhkan identitas bangsa, bahwa Indonesia adalah: bangsa yang ideologinya Pancasila; bangsa yang benderanya Merah Putih; bangsa yang berbahasa Indonesia; dan bangsa yang memiliki lambang negara Garuda Pancasila.

“Apabila salah satu ini diusik, maka akan mengancam kedaulatan Bangsa Indonesia,” tegas Komjen Pol Putut Eko Bayuseno.

Pihak Kepolisian sendiri, jelas Kabaharkam, telah melakukan beberapa langkah untuk menjaga keutuhan NKRI. Baik itu yang dilakukan dengan menggandeng institusi terkait lain dalam upaya pencegahan gangguan kamtibmas, maupun yang dilakukan sendiri lewat penegakan hukum secara
proporsional dan efektif.

“Tugas Polisi tidak semata melakukan kegiatan represif: penilangan; penangkapan; dan razia. Namun ada sisi humanis yang perlu masyarakat ketahui,” katanya.

Akan tetapi, Komjen Pol Eko Bayuseno menyatakan, itu semua tak akan cukup tanpa dukungan semua lapisan masyarakat. Oleh karena itu, ia mengajak mahasiswa sebagai bagian masyarakat untuk ikut peduli dalam menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara.

“Mahasiswa adalah aset bangsa, sumber daya siap pakai yang berperan penting dalam pembangunan bangsa, generasi masa depan yang akan meneruskan estafet kepemimpinan negara,” ungkapnya.

Menurutnya, mahasiswa yang terkenal sebagai golongan masyarakat yang kritis, rasional, dan logis, karena lebih mengedepankan aspek rasionalitas dan logika sehat, dapat menjadi tauladan bagi masyarakat dalam mencegah konflik dan memelihara kamtibmas, dimulai dengan melakukan hal kecil seperti tertib berlalu-lintas atau tidak menjadi pelaku kejahatan narkoba, radikalisme, tawuran, dan lain-lain.

“Bela negara bukan hanya tugas TNI-Polri namun merupakan tugas kita semua masyarakat, termasuk mahasiswa,” tegas Komjen Pol Eko Bayuseno.

Sebelumnya, setelah dibuka secara resmi oleh Menko Polhukam, kegiatan ini diawali dengan penandatanganan Nota Kesepahaman “Penolakan Terhadap Segala Bentuk Gerakan Anti-Pancasila”.

[Tribratanews.com/AKP Bambang AS]

Related Posts