72 Tahun Merdeka: NKRI Sumpah Sampai Mati

Oleh: Iman Firmansyah

Di bawah semboyan “Merdeka atau mati!” pahlawan-pahlawan kabanggaan Indonesia telah berjuang mempertaruhkan harta, tenaga, dan nyawa demi kemerdekaan bangsa.

Hingga akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia berhasil memproklamirkan kemerdekaannya sebagi bangsa dan negara. Dengan pengalaman 350 tahun dijajah Belanda dan 3,5 tahun dijajah Jepang.

Memang, waktu 350 tahun di bawah jajahan Belanda hanyalah sebuah generalisasi, hitung-hitungan sederhana untuk mengedepankan persamaan. Dimana perhitungan itu berdasarkan kali pertama bangsa Belanda menjejakkan kakinya di wilayah yang sekarang menjadi Indonesia pada sekitar akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17.

Generalisasi tersebut sangat penting artinya. Sehingga daerah-daerah, yang memiliki sejarah kerajaan/kesultanan dan kejayaannya masing-masing, yang menggabungkan diri menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), memiliki rasa senasib sepenanggungan dan kepentingan bersama menghapuskan penjajahan. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” menjadi semboyan.

Perjalanan NKRI bukan tanpa hambatan. Sejak 1945 itu, setelah Jepang takluk di tangan Sekutu dalam Perang Pasifik, Belanda berulang kali melancarkan agresi militer untuk merebut kembali daerah yang pernah dikuasainya. Tak berhasil namun juga tak sepenuhnya gagal. Karena pada 27 Desember 1949 Belanda hanya mengakui kemerdekaan Indonesia sebagai negara federal dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS). Tapi kemudian, pada 17 Agustus 1950, Mohammad Natsir menyerukan kembalinya NKRI dan membubarkan RIS. Indonesia kembali bersatu.

Dan kini, kita bisa merayakan Hari Kemerdekaan RI yang ke-72. Tantangan lain menghadang. Gejolak intoleransi, radikalisme, dan anti-Pancasila mulai menghantui. Pemerintah sendiri, di bawah pimpinan Presiden Joko Widodo, telah mengeluarkan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 untuk menangkal gejolak itu. Semangat penanaman nilai Pancasila juga semakin digelorakan.

Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang bertugas menjaga keamanan negara dari serangan luar, juga menyatakan siap mempertahankan kedaulatan NKRI. Namun Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, yakin selama masyarakat mengimplementasikan nilai Pancasila maka tak akan ada negara lain yang bisa memecah-belah Indonesia.

“Selama masih ada Pancasila, negara ini pasti utuh dan tidak mungkin bisa pecah-pecah. Karena negara ini penduduknya, adalah orang-orang yang sudah tidak bisa terbantahkan lagi berdasarkan sejarah dan antropologi budaya, adalah kumpulan dari ksatria dan patriot. Jadi tidak bisa negara lain menghancurkan bangsa ini selama masih ada Pancasila. Yang jadi permasalahan, mari bersama-sama kita implementasikan Pancasila dalam kehidupan kita sehari-hari,” kata Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, baru-baru ini.

Di pihak lain, Polri yang tugasnya menjamin dan menyelenggarakan keamanan di dalam negeri, terus berupaya mempertahankan stabilitas keamanan negara. Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan, kata kuncinya adalah solid internal, agar Indonesia bisa konsentrasi mencapai tujuan dibentuknya NKRI dan mengembangkan potensi yang ada.

“Syarat untuk menjadi negara yang besar, super power, yang bisa berkuasa dominan di dunia ini, cuma tiga: penduduknya besar; kedua adalah sumber daya alamnya besar; ketiga luas wilayahnya besar. Tidak banyak negara-negara yang memiliki syarat itu, Indonesia adalah salah satunya, artinya Indonesia memiliki potensi untuk menjadi negara super power. Apa langkahnya? Langkahnya, solid internal. Jadi jangan lagi kita bicara cakar-cakaran di dalam,” kata Jenderal Pol Tito Karnavian.

Tentu, NKRI hanyalah sebuah kesepakatan, yang kapan pun bisa ditinjau ulang dan diperbaharui. Untuk itu, slogan “NKRI Harga Mati” rasanya kurang tepat dan terkesan ada paksaan. Apalagi bila dibandingkan dengan prasa “jalan buntu” yang berarti jalannya buntu atau tidak ada jalan lagi, jangan sampai “harga mati” juga diartikan harganya mati atau tidak ada harga lagi.

“NKRI Harga Pas” mungkin lebih elok. Karena dalam jual-beli, “harga pas” mencerminkan tak ada pihak yang dirugikan. Setuju, bawa. Tidak setuju, tinggalkan. Tak perlu tawar-menawar lagi. Begitu juga dengan NKRI, pilihannya hanya ada dua: “Bersatu kita teguh” atau “Bercerai kita runtuh”.

Mengingat potensi yang ada, NKRI layak diperjuangkan. Anugerah Tuhan yang berlimpah ini harus disyukuri dengan memanfaatkannya sebaik mungkin demi kepentingan bersama. Memperjuangkan kepentingan itu akan lebih ringan jika kita bersatu, di bawah naungan NKRI yang berdasar Pancasila dan UUD 1945.

Bahkan, meminjam kata Ismail Marzuki dalam “Indonesia Pusaka”, NKRI layak diperjuangkan sebagai “tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata”.

Untuk itu, dengan tema “Kerja Bersama”, peringatan hari lahir Indonesia yang ke-72 ini dapat kita jadikan momentum untuk memperteguh kembali kesepakatan bersatu sebagai sebuah negara. Bila perlu, kita bersumpah akan mempertahankan NKRI sampai mati. [*]

Related Posts